Postingan

Menampilkan postingan dengan label Catatan Pelatih

Berulang Namun Bukan Pengulangan

Gambar
Refleksi: 65 Tahun Gerakan Pramuka  Ada hal-hal dalam kehidupan yang terus berulang, tetapi sesungguhnya tidak pernah benar-benar mengulang. Detik berulang menjadi detik. Jam berulang menjadi jam. Hari berganti hari. Minggu datang setelah minggu. Bulan menyusul bulan. Tahun pun kembali membawa tahun yang baru. Sekilas, semuanya seperti pengulangan. Tetapi cobalah perhatikan lebih dalam. Detik yang baru bukanlah detik yang telah berlalu. Hari ini bukan kemarin. Tahun ini bukan tahun lalu. Bahkan ketika kita kembali berada di tempat yang sama, bertemu orang yang sama, melakukan kegiatan yang sama, kita tidak pernah benar-benar menjadi manusia yang sama. Sebab waktu tidak hanya berjalan di luar diri kita. Waktu juga berjalan di dalam diri kita. Setiap pengalaman meninggalkan sesuatu. Setiap perjumpaan memberi pelajaran. Setiap perjalanan mengubah cara kita memandang kehidupan. Karena itu, kita mungkin masih menggunakan nama yang sama, wajah yang sama, bahkan mengenakan seragam yang sa...

Adil Sejak Dalam Pikiran (3)

Gambar
Bagian III Menjadi Terpelajar Jika pendidikan adalah proses menata kesadaran, maka menjadi terpelajar bukanlah keadaan yang selesai dicapai. Ia bukan gelar yang melekat setelah seseorang lulus dari sebuah lembaga pendidikan. Ia adalah latihan yang terus-menerus dijalani sepanjang hidup. Menjadi terpelajar berarti terus melatih diri agar pikiran tetap adil. Latihan itu tidak dimulai ketika seseorang berbicara di depan banyak orang. Tidak pula ketika ia menulis, mengajar, atau memimpin. Latihan itu dimulai ketika seseorang berhadapan dengan dirinya sendiri. Setiap kali menerima informasi. Setiap kali mendengar pendapat yang berbeda. Setiap kali kemarahan mulai menguasai pikiran. Setiap kali ego ingin menjadi pemenang. Di saat-saat itulah keterpelajaran sedang diuji. --- Prinsip-Prinsip Keterpelajaran Tidak ada rumus yang selesai untuk menjadi manusia yang terpelajar. Namun, ada beberapa latihan yang dapat menjaga agar kesadaran tetap bertumbuh. Pertama, dahulukan kebenaran daripada kemen...

Adil Sejak Dalam Pikiran (2)

Gambar
Bagian II Keterpelajaran dan Kesadaran "Apa sesungguhnya makna menjadi seorang terpelajar di zaman seperti ini?" Pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika kita menyadari bahwa informasi ternyata tidak selalu melahirkan kebijaksanaan. Gelar akademik tidak selalu melahirkan kerendahan hati. Bahkan kecerdasan pun tidak otomatis menghadirkan keadilan. Lalu, apa sebenarnya yang membedakan seorang yang berpengetahuan dengan seorang yang terpelajar? Di sinilah Pramoedya Ananta Toer memberikan sebuah kalimat yang sederhana, tetapi memiliki daya gugah yang luar biasa. «"Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan."» Kalimat itu menggeser ukuran keterpelajaran dari apa yang diketahui seseorang menuju bagaimana seseorang berpikir. Selama ini, keterpelajaran sering diukur dari banyaknya informasi yang tersimpan di dalam ingatan. Semakin tinggi pendidikan, semakin banyak gelar, semakin luas wawasan, maka semakin terpelajarlah sese...

Adil Sejak Dalam Pikiran (1)

Gambar
Bagian I Lautan Informasi dan Hilangnya Kejernihan Berpikir Pendahuluan Ada ironi besar yang sedang kita hidupi. Sepanjang sejarah manusia, belum pernah ada zaman ketika pengetahuan semudah hari ini untuk diakses. Dalam genggaman tangan, kita dapat membaca kitab suci, kitab-kitab klasik, mengikuti kuliah para ilmuwan, menyaksikan peristiwa di belahan dunia lain hanya beberapa detik setelah terjadi, bahkan berdiskusi dengan kecerdasan buatan mengenai berbagai bidang ilmu. Teknologi telah mendekatkan manusia kepada informasi. Jarak dan waktu bukan lagi penghalang. Apa yang dahulu hanya dapat dijangkau oleh segelintir orang, kini tersedia bagi siapa saja yang memiliki akses internet. Sekilas, keadaan ini tampak menjanjikan. Semakin banyak informasi seharusnya membuat manusia semakin bijaksana. Semakin luas pengetahuan seharusnya membuat masyarakat semakin dewasa. Semakin mudah belajar seharusnya membuat peradaban semakin maju. Namun, kenyataan yang kita hadapi justru menunjukkan ironi yan...

APERSEPSI DALAM PELATIHAN

Gambar
Bagaimana kebiasaan Anda saat memulai sesi presentasi, baik mempresentasikan produk atau program tertentu, mengajar di depan kelas, menjadi instruktur dalam suatu pelatihan, atau dalam suatu sesi public speaking yang lain? Apakah Anda memulainya dengan mengajukan pertanyaan kepada audience ? Apakah Anda memulainya dengan cerita humor? Apakah Anda memulainya dengan mengajak audience melakukan gerakan tertentu? Atau mungkin Anda langsung menyampaikan topik pembicaraan secara bertahap? Mungkin Anda telah melakukan semua hal di atas. Namun, pernahkah Anda bertanya kepada diri sendiri; Apakah audience benar-benar ingin mendengarkan topik yang Anda sajikan? Perlukah audience mengenal diri Anda, meski sedikit? Perlukah Anda juga mengenal audience yang menjadi pendengar? Perlukah Anda dan audience saling memahami peran masing-masing dalam pertemuan? jika Anda merasa perlu dari salah satu pertanyaan reflektif di atas, Anda perlu memahami tentang apersepsi dalam suatu pelatihan atau pertemu...