Adil Sejak Dalam Pikiran (2)


Bagian II

Keterpelajaran dan Kesadaran


"Apa sesungguhnya makna menjadi seorang terpelajar di zaman seperti ini?"

Pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika kita menyadari bahwa informasi ternyata tidak selalu melahirkan kebijaksanaan. Gelar akademik tidak selalu melahirkan kerendahan hati. Bahkan kecerdasan pun tidak otomatis menghadirkan keadilan.

Lalu, apa sebenarnya yang membedakan seorang yang berpengetahuan dengan seorang yang terpelajar?

Di sinilah Pramoedya Ananta Toer memberikan sebuah kalimat yang sederhana, tetapi memiliki daya gugah yang luar biasa.

«"Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan."»

Kalimat itu menggeser ukuran keterpelajaran dari apa yang diketahui seseorang menuju bagaimana seseorang berpikir.

Selama ini, keterpelajaran sering diukur dari banyaknya informasi yang tersimpan di dalam ingatan. Semakin tinggi pendidikan, semakin banyak gelar, semakin luas wawasan, maka semakin terpelajarlah seseorang.

Padahal informasi hanyalah bahan mentah.

Ia dapat melahirkan kebijaksanaan.

Namun ia juga dapat memperkuat kesombongan.

Ia dapat membangun peradaban.

Namun ia juga dapat menjadi alat propaganda.

Semuanya bergantung pada pikiran yang mengolahnya.

Karena itu, seorang terpelajar bukan pertama-tama dinilai dari banyaknya pengetahuan yang ia kuasai, melainkan dari kemampuannya bersikap adil terhadap pengetahuan itu sendiri.

Adil terhadap fakta, dengan tidak menambah ataupun menguranginya.

Adil terhadap pendapat orang lain, dengan mendengarkannya sebelum menolaknya.

Adil terhadap diri sendiri, dengan berani mengakui ketika keliru.

Dan adil terhadap kebenaran, dengan menerimanya meskipun datang dari orang yang tidak ia sukai.

Namun, di balik semua itu, muncul pertanyaan yang lebih mendasar.

Mengapa seseorang mampu berpikir dengan adil, sementara yang lain begitu mudah dikuasai prasangka, fanatisme, atau kepentingan?

Mengapa dua orang yang sama-sama cerdas dapat menghasilkan cara pandang yang sangat berbeda terhadap kenyataan?

Barangkali, persoalannya bukan terletak pada banyaknya informasi yang dimiliki.

Persoalannya terletak pada kualitas kesadaran yang mengolah informasi itu.

---

Kesadaran: Akar dari Keadilan Berpikir

Sampai di sini, kita perlu menjernihkan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan kesadaran.

Kesadaran bukan sekadar keadaan terjaga.

Ia juga bukan sekadar mengetahui sesuatu.

Kesadaran adalah kemampuan manusia untuk melihat realitas secara utuh, memahami maknanya dengan jernih, lalu memilih respons yang benar dengan penuh tanggung jawab.

Di dalam kesadaran terdapat tiga kemampuan yang saling berkaitan.


Pertama, kemampuan melihat.

Melihat bukan hanya dengan mata, melainkan dengan kejernihan batin. Kesadaran menolong manusia membedakan antara fakta dan prasangka, antara kenyataan dan opini, antara informasi dan kebenaran.


Kedua, kemampuan memahami.

Tidak semua yang tampak dapat segera dimengerti. Kesadaran mengajak manusia menyusun hubungan sebab-akibat, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, serta menemukan makna yang tersembunyi di balik setiap peristiwa.


Ketiga, kemampuan merespons.

Pengetahuan baru memperoleh nilainya ketika diwujudkan dalam pilihan yang bertanggung jawab. Kesadaran menuntun manusia agar tidak sekadar bereaksi mengikuti emosi, melainkan merespons berdasarkan kebenaran dan kebijaksanaan.


Dengan demikian, kesadaran bukanlah tujuan akhir.

Kesadaran adalah sumber yang menghidupkan seluruh proses berpikir.

Dari kesadaran yang jernih lahirlah cara berpikir yang adil.

Dan dari cara berpikir yang adil lahirlah tindakan yang memuliakan manusia.

---


Esensi Pendidikan: Menata Kesadaran

Jika keadilan dalam berpikir merupakan buah dari kesadaran yang tertata, maka pertanyaan berikutnya adalah:

Apa sesungguhnya tujuan pendidikan?

Selama berabad-abad, pendidikan sering dipahami sebagai proses memindahkan pengetahuan dari mereka yang mengetahui kepada mereka yang belum mengetahui.

Semakin banyak informasi yang dikuasai, semakin tinggi pula seseorang dianggap terdidik.

Namun pengalaman zaman kita menunjukkan bahwa pengetahuan saja tidak cukup.

Orang yang berpengetahuan dapat menyebarkan kebohongan.

Orang yang cerdas dapat memutarbalikkan logika.

Orang yang berpendidikan tinggi pun dapat menggunakan ilmunya untuk membenarkan kepentingannya sendiri.

Jika demikian, persoalannya bukan terletak pada pengetahuan.

Persoalannya terletak pada kesadaran yang mengarahkan pengetahuan itu.

Pengetahuan ibarat cahaya.

Ia mampu menerangi jalan.

Namun ia juga dapat menyilaukan mata.

Kesadaranlah yang menentukan ke mana cahaya itu diarahkan.

Karena itu, pendidikan yang sejati tidak berhenti pada penguasaan informasi.

Pendidikan harus membentuk cara manusia hadir di hadapan realitas.

Ia melatih manusia untuk melihat sebelum menilai.

Memahami sebelum memutuskan.

Dan merenung sebelum bertindak.

Terpelajar bukanlah mereka yang selalu memiliki jawaban.

Terpelajar adalah mereka yang memiliki keberanian untuk mempertanyakan pikirannya sendiri.

Mereka tidak menjadikan pengetahuan sebagai alat untuk merasa paling benar.

Melainkan sebagai jalan untuk semakin dekat kepada kebenaran.

Kesadaran yang tertata melahirkan kerendahan hati.

Kerendahan hati melahirkan kejujuran intelektual.

Kejujuran intelektual melahirkan keadilan dalam berpikir.

Dan dari keadilan dalam berpikir lahirlah ucapan yang jernih, keputusan yang bijaksana, serta tindakan yang beradab.

Pada akhirnya, seluruh persoalan ini membawa kita kepada sebuah pemahaman yang sederhana.

*****

Peradaban tidak dibangun dari gedung-gedung yang menjulang, teknologi yang canggih, atau melimpahnya informasi.

Semua itu hanyalah hasil.

Akar sebuah peradaban jauh lebih dalam daripada yang tampak di permukaan.

Ia berawal dari kesadaran manusia.

Kesadaran membentuk cara berpikir.

Cara berpikir melahirkan cara memandang realitas.

Cara memandang realitas melahirkan keputusan.

Keputusan melahirkan tindakan.

Tindakan yang diulang menjadi kebiasaan.

Kebiasaan yang diwariskan menjadi budaya.

Dan budaya yang terus dipelihara melahirkan peradaban.


Maka, apabila kita ingin membangun peradaban yang lebih adil, lebih manusiawi, dan lebih bermartabat, pendidikan harus berani kembali kepada hakikatnya.

Bukan sekadar mengisi kepala manusia dengan pengetahuan.

Melainkan menata kesadarannya.

---------------------------------------------------------------

Sebab ketika kesadaran telah tertata, pengetahuan menemukan arahnya.

Keadilan menemukan pijakannya.

Dan peradaban menemukan masa depannya.

---------------------------------------------------------------

(Bersambung).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyusun Program Latihan Pramuka

Adil Sejak Dalam Pikiran (1)

Reksabumi: Tanda Yang Sering Hanya Dianggap Pemandangan