Berulang Namun Bukan Pengulangan
Refleksi: 65 Tahun Gerakan Pramuka
Ada hal-hal dalam kehidupan yang terus berulang, tetapi sesungguhnya tidak pernah benar-benar mengulang.
Detik berulang menjadi detik. Jam berulang menjadi jam. Hari berganti hari. Minggu datang setelah minggu. Bulan menyusul bulan. Tahun pun kembali membawa tahun yang baru.
Sekilas, semuanya seperti pengulangan.
Tetapi cobalah perhatikan lebih dalam.
Detik yang baru bukanlah detik yang telah berlalu. Hari ini bukan kemarin. Tahun ini bukan tahun lalu. Bahkan ketika kita kembali berada di tempat yang sama, bertemu orang yang sama, melakukan kegiatan yang sama, kita tidak pernah benar-benar menjadi manusia yang sama.
Sebab waktu tidak hanya berjalan di luar diri kita. Waktu juga berjalan di dalam diri kita.
Setiap pengalaman meninggalkan sesuatu. Setiap perjumpaan memberi pelajaran. Setiap perjalanan mengubah cara kita memandang kehidupan.
Karena itu, kita mungkin masih menggunakan nama yang sama, wajah yang sama, bahkan mengenakan seragam yang sama. Tetapi sesungguhnya kita telah membawa diri yang berbeda dari hari-hari sebelumnya.
Kita berulang, tetapi bukan pengulangan.
Malam ini, kita kembali memperingati Hari Pramuka.
Untuk yang ke-65 kalinya.
Angka 65 mungkin tampak seperti sebuah hitungan sederhana. Enam puluh lima tahun sejak Gerakan Pramuka berdiri sebagai sebuah gerakan pendidikan kaum muda di Indonesia.
Namun jika kita melihatnya hanya sebagai angka, kita akan kehilangan maknanya.
Sebab 65 tahun bukan sekadar usia.
Ia adalah perjalanan.
Di dalamnya ada begitu banyak generasi yang pernah mengenakan seragam Pramuka. Ada anak-anak yang belajar membuat simpul, membaca tanda jejak, mendirikan tenda, menolong sesama, hidup bersama alam, belajar memimpin, belajar bertanggung jawab, dan belajar menjadi manusia yang berguna.
Mereka datang pada zamannya.
Mereka belajar dengan tantangan zamannya.
Mereka kemudian tumbuh, menjadi dewasa, dan menyerahkan tongkat estafet kepada generasi berikutnya.
Lalu generasi berikutnya datang.
Dan kehidupan kembali berulang.
Latihan kembali dilaksanakan. Perkemahan kembali digelar. Upacara kembali dilakukan. Janji kembali diucapkan. Dasa Darma kembali dibacakan.
Semuanya tampak sama.
Tetapi sesungguhnya tidak pernah sama.
Sebab anak-anak yang hadir hari ini bukanlah anak-anak yang hadir puluhan tahun lalu.
Dunia yang mereka hadapi pun bukan dunia yang sama.
Tantangan kehidupan berubah. Teknologi berubah. Cara manusia berkomunikasi berubah. Cara belajar berubah. Persoalan sosial berubah. Bahkan cara anak-anak memahami dirinya dan lingkungannya pun berubah.
Maka Pramuka tidak boleh hanya sibuk mengulang masa lalu.
Pramuka harus mampu membawa nilai-nilai yang baik dari masa lalu untuk menjawab kehidupan hari ini dan mempersiapkan kehidupan hari esok.
Di sinilah mungkin makna penting dari sebuah gerakan pendidikan.
Pendidikan bukan sekadar membuat sesuatu terus dilakukan.
Pendidikan seharusnya membuat seseorang bertumbuh.
Maka pertanyaan penting pada Hari Pramuka ke-65 ini bukan hanya:
“Sudah berapa lama kita menjadi Pramuka?”
Tetapi:
“Sudah menjadi apakah kita setelah perjalanan selama ini?”
Apakah pengalaman kita membuat kita lebih dewasa?
Apakah kegiatan yang kita jalani membuat kita lebih bertanggung jawab?
Apakah kebersamaan yang kita rasakan membuat kita lebih peduli?
Apakah keterampilan yang kita pelajari membuat kita lebih siap membantu?
Apakah nilai-nilai yang kita ucapkan dalam janji dan Dasa Darma benar-benar tumbuh menjadi perilaku dalam kehidupan sehari-hari?
Sebab pada akhirnya, keberhasilan pendidikan kepramukaan tidak semata-mata dapat diukur dari berapa banyak kegiatan yang telah dilaksanakan.
Ia lebih dalam daripada itu.
Ia dapat dilihat dari manusia seperti apa yang tumbuh setelah menjalani proses pendidikan tersebut.
Seorang Pramuka mungkin telah berkali-kali mengikuti perkemahan.
Tetapi yang penting bukan berapa kali ia mendirikan tenda.
Yang penting adalah apakah ia belajar mandiri.
Seorang Pramuka mungkin telah berkali-kali mengikuti kegiatan sosial.
Tetapi yang penting bukan berapa banyak kegiatan yang tercatat.
Yang penting adalah apakah kepeduliannya tumbuh menjadi kebiasaan.
Seorang Pramuka mungkin telah berkali-kali mengucapkan janji.
Tetapi yang penting adalah apakah janji itu semakin nyata dalam kehidupannya.
Karena itu, kegiatan boleh berulang.
Tradisi boleh berulang.
Upacara boleh berulang.
Hari Pramuka boleh datang setiap tahun.
Tetapi manusia yang menjalani semuanya seharusnya tidak berhenti pada pengulangan.
Ia harus bertumbuh.
Mungkin inilah cara kita memahami perjalanan Gerakan Pramuka selama 65 tahun.
Bukan sebagai perjalanan yang berputar kembali ke tempat yang sama, melainkan seperti perjalanan yang terus bergerak ke depan.
Ada hal-hal yang kita pertahankan karena memang bernilai.
Ada hal-hal yang kita perbarui karena zaman berubah.
Dan ada hal-hal yang harus kita tinggalkan karena tidak lagi membawa kehidupan menuju kebaikan.
Sebab setia kepada nilai tidak selalu berarti mempertahankan bentuk.
Kadang-kadang justru dengan mengubah bentuk, kita sedang menjaga nilai agar tetap hidup.
Malam ini kita kembali memperingati Hari Pramuka.
Namun semoga kita tidak sekadar mengulang sebuah peringatan.
Semoga kita menjadikannya sebagai kesempatan untuk berhenti sejenak, melihat perjalanan yang telah dilalui, kemudian bertanya:
Apa yang telah berubah dalam diri kita?
Karena enam puluh lima tahun Gerakan Pramuka akan menjadi bermakna apabila setiap generasi yang melaluinya menjadi sedikit lebih baik daripada generasi sebelumnya.
Waktu akan terus berjalan.
Detik akan berulang menjadi detik.
Hari akan kembali menjadi hari.
Tahun akan kembali menjadi tahun.
Dan Hari Pramuka akan kembali kita peringati.
Tetapi kita tidak pernah benar-benar kembali menjadi manusia yang sama.
Maka jangan takut bahwa waktu terus berulang.
Yang perlu kita takutkan adalah apabila waktu terus berulang, sementara diri kita tidak pernah bertumbuh.
Sebab kehidupan bukan tentang mengulang hari.
Kehidupan adalah tentang memaknai setiap hari yang datang, lalu bertumbuh karenanya.
Dan mungkin, demikian pula hakikat perjalanan seorang Pramuka:
Berulang, namun bukan pengulangan.
Kembali, namun tidak kembali menjadi yang sama.
Berjalan dalam nilai yang sama,
namun terus bertumbuh menghadapi zaman yang berbeda.
Selamat Hari Pramuka ke-65.
Semoga 65 tahun perjalanan bukan hanya menjadikan Gerakan Pramuka semakin tua,
tetapi semakin dewasa,
semakin relevan,
semakin bermakna,
dan semakin mampu menumbuhkan manusia yang berguna bagi sesama.
Kak Roem
Buah pikiran yang ditata lewat AI.

Komentar
Posting Komentar