Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2026

Adil Sejak Dalam Pikiran

Gambar
Bagian III Menjadi Terpelajar Jika pendidikan adalah proses menata kesadaran, maka menjadi terpelajar bukanlah keadaan yang selesai dicapai. Ia bukan gelar yang melekat setelah seseorang lulus dari sebuah lembaga pendidikan. Ia adalah latihan yang terus-menerus dijalani sepanjang hidup. Menjadi terpelajar berarti terus melatih diri agar pikiran tetap adil. Latihan itu tidak dimulai ketika seseorang berbicara di depan banyak orang. Tidak pula ketika ia menulis, mengajar, atau memimpin. Latihan itu dimulai ketika seseorang berhadapan dengan dirinya sendiri. Setiap kali menerima informasi. Setiap kali mendengar pendapat yang berbeda. Setiap kali kemarahan mulai menguasai pikiran. Setiap kali ego ingin menjadi pemenang. Di saat-saat itulah keterpelajaran sedang diuji. --- Prinsip-Prinsip Keterpelajaran Tidak ada rumus yang selesai untuk menjadi manusia yang terpelajar. Namun, ada beberapa latihan yang dapat menjaga agar kesadaran tetap bertumbuh. Pertama, dahulukan kebenaran daripada kemen...

Adil Sejak Dalam Pikiran

Gambar
Bagian II Keterpelajaran dan Kesadaran "Apa sesungguhnya makna menjadi seorang terpelajar di zaman seperti ini?" Pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika kita menyadari bahwa informasi ternyata tidak selalu melahirkan kebijaksanaan. Gelar akademik tidak selalu melahirkan kerendahan hati. Bahkan kecerdasan pun tidak otomatis menghadirkan keadilan. Lalu, apa sebenarnya yang membedakan seorang yang berpengetahuan dengan seorang yang terpelajar? Di sinilah Pramoedya Ananta Toer memberikan sebuah kalimat yang sederhana, tetapi memiliki daya gugah yang luar biasa. «"Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan."» Kalimat itu menggeser ukuran keterpelajaran dari apa yang diketahui seseorang menuju bagaimana seseorang berpikir. Selama ini, keterpelajaran sering diukur dari banyaknya informasi yang tersimpan di dalam ingatan. Semakin tinggi pendidikan, semakin banyak gelar, semakin luas wawasan, maka semakin terpelajarlah sese...

Adil Sejak Dalam Pikiran

Gambar
Bagian I Lautan Informasi dan Hilangnya Kejernihan Berpikir Pendahuluan Ada ironi besar yang sedang kita hidupi. Sepanjang sejarah manusia, belum pernah ada zaman ketika pengetahuan semudah hari ini untuk diakses. Dalam genggaman tangan, kita dapat membaca kitab suci, kitab-kitab klasik, mengikuti kuliah para ilmuwan, menyaksikan peristiwa di belahan dunia lain hanya beberapa detik setelah terjadi, bahkan berdiskusi dengan kecerdasan buatan mengenai berbagai bidang ilmu. Teknologi telah mendekatkan manusia kepada informasi. Jarak dan waktu bukan lagi penghalang. Apa yang dahulu hanya dapat dijangkau oleh segelintir orang, kini tersedia bagi siapa saja yang memiliki akses internet. Sekilas, keadaan ini tampak menjanjikan. Semakin banyak informasi seharusnya membuat manusia semakin bijaksana. Semakin luas pengetahuan seharusnya membuat masyarakat semakin dewasa. Semakin mudah belajar seharusnya membuat peradaban semakin maju. Namun, kenyataan yang kita hadapi justru menunjukkan ironi yan...