Reksabumi: Tanda Yang Sering Hanya Dianggap Pemandangan
Gunung Reksabumi berdiri kokoh, menjadi pusat pandangan mata di antara hijau hutan belantara. Ngarainya menjadi ukiran alam yang menambah pesona tampilannya. Keberadaannya menjadi sumber daya alam bagi penduduk desa di sekeliling kakinya. Reksabumi tidak pernah mengundang siapa pun. Ia hanya berdiri, menampilkan dirinya adanya. Seperti kebenaran yang tidak membutuhkan pengakuan. Namun entah karena angin apa. Pagi itu, tiga pemuda datang seolah terpanggil oleh sesuatu yang tidak mereka dengar melalui telinga, tetapi mengalir ke dalam pusat perasaan mereka. Seperti air yang turun dari dari langit, mengisi ngarai-ngarai di lereng Reksabumi, yang meneruskannya ke sungai-sungai, dan pada akhirnya berkumpul di samudera kehidupan. Bara berjalan di depan, membawa keyakinan bahwa dunia bisa dipahami. Nala berjalan di tengah, membawa pertanyaan yang tidak pernah selesai. Yasa berjalan di belakang, membawa iman yang tidak selalu tenang. Di kaki gunung, mereka be...