Postingan

Adil Sejak Dalam Pikiran

Gambar
Bagian III Menjadi Terpelajar Jika pendidikan adalah proses menata kesadaran, maka menjadi terpelajar bukanlah keadaan yang selesai dicapai. Ia bukan gelar yang melekat setelah seseorang lulus dari sebuah lembaga pendidikan. Ia adalah latihan yang terus-menerus dijalani sepanjang hidup. Menjadi terpelajar berarti terus melatih diri agar pikiran tetap adil. Latihan itu tidak dimulai ketika seseorang berbicara di depan banyak orang. Tidak pula ketika ia menulis, mengajar, atau memimpin. Latihan itu dimulai ketika seseorang berhadapan dengan dirinya sendiri. Setiap kali menerima informasi. Setiap kali mendengar pendapat yang berbeda. Setiap kali kemarahan mulai menguasai pikiran. Setiap kali ego ingin menjadi pemenang. Di saat-saat itulah keterpelajaran sedang diuji. --- Prinsip-Prinsip Keterpelajaran Tidak ada rumus yang selesai untuk menjadi manusia yang terpelajar. Namun, ada beberapa latihan yang dapat menjaga agar kesadaran tetap bertumbuh. Pertama, dahulukan kebenaran daripada kemen...

Adil Sejak Dalam Pikiran

Gambar
Bagian II Keterpelajaran dan Kesadaran "Apa sesungguhnya makna menjadi seorang terpelajar di zaman seperti ini?" Pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika kita menyadari bahwa informasi ternyata tidak selalu melahirkan kebijaksanaan. Gelar akademik tidak selalu melahirkan kerendahan hati. Bahkan kecerdasan pun tidak otomatis menghadirkan keadilan. Lalu, apa sebenarnya yang membedakan seorang yang berpengetahuan dengan seorang yang terpelajar? Di sinilah Pramoedya Ananta Toer memberikan sebuah kalimat yang sederhana, tetapi memiliki daya gugah yang luar biasa. «"Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan."» Kalimat itu menggeser ukuran keterpelajaran dari apa yang diketahui seseorang menuju bagaimana seseorang berpikir. Selama ini, keterpelajaran sering diukur dari banyaknya informasi yang tersimpan di dalam ingatan. Semakin tinggi pendidikan, semakin banyak gelar, semakin luas wawasan, maka semakin terpelajarlah sese...

Adil Sejak Dalam Pikiran

Gambar
Bagian I Lautan Informasi dan Hilangnya Kejernihan Berpikir Pendahuluan Ada ironi besar yang sedang kita hidupi. Sepanjang sejarah manusia, belum pernah ada zaman ketika pengetahuan semudah hari ini untuk diakses. Dalam genggaman tangan, kita dapat membaca kitab suci, kitab-kitab klasik, mengikuti kuliah para ilmuwan, menyaksikan peristiwa di belahan dunia lain hanya beberapa detik setelah terjadi, bahkan berdiskusi dengan kecerdasan buatan mengenai berbagai bidang ilmu. Teknologi telah mendekatkan manusia kepada informasi. Jarak dan waktu bukan lagi penghalang. Apa yang dahulu hanya dapat dijangkau oleh segelintir orang, kini tersedia bagi siapa saja yang memiliki akses internet. Sekilas, keadaan ini tampak menjanjikan. Semakin banyak informasi seharusnya membuat manusia semakin bijaksana. Semakin luas pengetahuan seharusnya membuat masyarakat semakin dewasa. Semakin mudah belajar seharusnya membuat peradaban semakin maju. Namun, kenyataan yang kita hadapi justru menunjukkan ironi yan...

Malam Adalah Selimut dan Tidur Adalah Jeda

Gambar
Malam, dalam sunyinya, ternyata telah lama diberi makna oleh wahyu. Dalam Al-Qur'an , pada Surah An-Naba ayat 9–10, disebutkan bahwa tidur dijadikan sebagai istirahat dan malam sebagai pakaian . Dua metafora yang sederhana, namun dalam seperti dalamnya samudera terdalam. “Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, dan Kami jadikan malam sebagai pakaian.” Jika ditarik ke dalam pengalaman manusia, “istirahat” bukan sekadar berhentinya gerak, melainkan pemulihan yang utuh. Raga diberi kesempatan untuk memperbaiki dirinya, sebagaimana ilmu pengetahuan modern menjelaskan tentang regenerasi sel, stabilisasi hormon, dan pemulihan sistem saraf. Seakan-akan, ayat ini telah lebih dulu mengisyaratkan bahwa tidur bukan kemewahan, melainkan kebutuhan mendasar yang dirancang dengan presisi. Maha Suci Allah yang menciptakan makhluk-Nya dalam kesempurnaan. Sementara itu, “malam sebagai pakaian” menghadirkan gambaran yang lebih puitis. Pakaian menutup, melindungi, dan memberi rasa aman. Malam ...

Lihatlah Pemimpin Dari Warisan Yang Ditinggalkannya

Gambar
  Ada cara sederhana menilai seorang pemimpin yang sering luput dari sorotan. Bukan dari tepuk tangan saat ia berdiri di panggung, bukan dari ramainya pengikut yang mengelilinginya, bahkan bukan dari panjangnya daftar jabatan yang pernah ia sandang. Pemimpin sejati justru dapat dibaca dari jejak yang tertinggal setelah langkahnya berhenti. Dari warisan yang ia tinggalkan. Pemimpin ibarat penanam pohon di tanah yang belum tentu ia saksikan panennya. Ia menanam gagasan, nilai, dan semangat ke dalam tanah kehidupan orang-orang yang dipimpinnya. Ketika masa kepemimpinannya selesai, pohon-pohon itu akan tetap tumbuh. Ada yang menjadi tempat berteduh, ada yang berbuah pengetahuan, ada pula yang menjadi penyangga bagi generasi berikutnya. Dari sanalah kualitas kepemimpinan dapat diukur: apakah yang tumbuh adalah keberanian, kemandirian, dan ketulusan, atau justru ketergantungan dan kehilangan arah. Warisan seorang pemimpin bukan sekadar bangunan fisik, program kerja, atau dokumen te...

Verba Volent Scripta Manent

Gambar
  Peribahasa Latin kuno menyatakan verba volent scripta manent. Arti dari kalimat tersebut intinya: “Apa yang terucap, akan segera lenyap. Apa yang tertulis akan menjadi abadi.” Kita tidak hidup sezaman dengan Chairil Anwar, namun kita "mengenal" namanya dari puisi-puisinya yang dituliskan. Kita tidak hidup sezaman dengan Kahlil Gibran, namun kita mengenal namanya dari sajak-sajak yang dituliskan. Kita tidak hidup sezaman dengan Sang Nabi, namun kita mengenal namanya dan mematuhinya dari kata-kata beliau yang dituliskan. Sejarah dikenang ribuan tahun karena dituliskan. Kata-kata itu pikiran yang disuarakan. Lukisan/relief itu pikiran yang digambarkan. Teks/Naskah itu pikiran yang dituliskan. Sedangkan angan-angan adalah pikiran yang tidak dilakukan. Pengetahuan dan pengalaman itu ibarat kuda liar.  Pengikatnya ialah dengan menuliskannya.

Reksabumi: Tanda Yang Sering Hanya Dianggap Pemandangan

Gambar
    Gunung Reksabumi berdiri kokoh, menjadi pusat pandangan mata di antara hijau hutan belantara. Ngarainya menjadi ukiran alam yang menambah pesona tampilannya. Keberadaannya menjadi sumber daya alam bagi penduduk desa di sekeliling kakinya. Reksabumi tidak pernah mengundang siapa pun. Ia hanya berdiri, menampilkan dirinya adanya. Seperti kebenaran yang tidak membutuhkan pengakuan. Namun entah karena angin apa. Pagi itu, tiga pemuda datang seolah terpanggil oleh sesuatu yang tidak mereka dengar melalui telinga, tetapi mengalir ke dalam pusat perasaan mereka. Seperti air yang turun dari dari langit, mengisi ngarai-ngarai di lereng Reksabumi, yang meneruskannya ke sungai-sungai, dan pada akhirnya berkumpul di samudera kehidupan. Bara berjalan di depan, membawa keyakinan bahwa dunia bisa dipahami. Nala berjalan di tengah, membawa pertanyaan yang tidak pernah selesai. Yasa berjalan di belakang, membawa iman yang tidak selalu tenang.   Di kaki gunung, mereka be...