Mendidik Generasi Hari Ini dengan Kacamata Masa Lalu
Tentang orang dewasa, anak-anak, dan keberanian untuk menyesuaikan diri.
***
Ada satu hal yang sering kali tidak kita sadari ketika mendidik anak-anak.
Kita kerap melihat mereka dengan kacamata masa lalu.
Sebagai guru, pembina, atau pelatih, kita merasa bahwa anak-anak seharusnya sudah memahami hal-hal tertentu. Mestinya mereka tahu bagaimana menghormati orang yang lebih tua. Mestinya mereka mengerti bagaimana bersikap ketika diberi nasihat. Mestinya mereka memiliki kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepekaan seperti yang dahulu kita miliki.
Kita pun sering membandingkan mereka dengan diri kita ketika seusia mereka.
"Dulu, seusia kalian, kami sudah bisa melakukan ini."
"Murid-murid saya dahulu tidak seperti ini."
Tanpa sadar, kita menjadikan pengalaman masa lalu sebagai ukuran untuk menilai anak-anak hari ini.
Padahal, anak-anak yang sedang kita didik bukanlah anak-anak yang pernah kita kenal dahulu.
Mereka lahir, tumbuh, dan belajar dalam lingkungan yang berbeda.
Sepuluh atau dua puluh tahun lalu, kehidupan kita memiliki keterbatasan yang tidak selalu mereka alami hari ini. Akses terhadap informasi, teknologi, sarana belajar, bahkan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, telah mengalami banyak perubahan.
Kita dahulu mungkin harus mencari informasi melalui buku, bertanya kepada orang lain, atau menunggu seseorang menjelaskan sesuatu.
Hari ini, anak-anak dapat menemukan begitu banyak informasi dalam waktu yang sangat singkat.
Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak serta-merta menjadikan seseorang lebih bijaksana. Banyaknya informasi tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan memahami. Kemudahan berkomunikasi juga tidak selalu berarti seseorang memiliki keterampilan berhubungan dengan sesama.
Di sinilah kita perlu membedakan antara apa yang berubah dan apa yang tetap perlu ditumbuhkan.
Cara belajar dapat berubah. Media pembelajaran dapat berubah. Lingkungan pergaulan dan tantangan kehidupan dapat berubah.
Tetapi nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, penghormatan terhadap sesama, dan kepedulian tetap perlu ditumbuhkan.
Yang perlu kita pertahankan adalah nilai-nilainya, bukan selalu cara lama untuk menanamkannya.
Kita tidak harus mengubah seluruh cara mendidik hanya karena generasi telah berubah. Namun, kita perlu memahami bahwa cara yang dahulu berhasil belum tentu dapat diterapkan dengan cara yang sama hari ini.
Sebab, mendidik bukan sekadar memindahkan pengalaman kita kepada anak-anak.
Mendidik adalah membantu mereka tumbuh dengan bekal nilai, pengetahuan, dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi kehidupan mereka sendiri.
Lalu, bagaimana semestinya kita menyesuaikan diri?
Pertama, belajar memahami sebelum menuntut.
Ketika seorang anak belum mampu bersikap sebagaimana yang kita harapkan, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa ia tidak memiliki adab, tidak disiplin, atau tidak menghargai orang lain.
Boleh jadi, ia belum memahami makna dari sikap yang kita tuntut. Boleh jadi, ia belum pernah mengalami situasi yang membuatnya belajar tentang hal tersebut.
Tentu, memahami bukan berarti membenarkan semua perilaku.
Justru dengan memahami, kita dapat mengetahui apa yang perlu diperbaiki dan bagaimana membantu anak memperbaikinya.
Kedua, membedakan antara nilai dan kebiasaan.
Tidak semua kebiasaan masa lalu merupakan nilai yang harus dipertahankan. Ada kebiasaan yang memang lahir dari kondisi zamannya.
Kita perlu bertanya kembali: apakah sesuatu yang kita tuntut benar-benar berkaitan dengan nilai yang ingin ditumbuhkan, atau sekadar kebiasaan yang dahulu kita anggap sebagai satu-satunya cara yang benar?
Menghormati orang lain, misalnya, tidak selalu harus ditunjukkan dengan cara yang sama dalam setiap lingkungan. Namun, sikap menghargai, kesediaan mendengarkan, dan kemampuan menjaga hubungan dengan sesama tetap perlu dipelajari.
Ketiga, menyesuaikan pendekatan tanpa kehilangan arah.
Anak-anak hari ini mungkin membutuhkan pengalaman belajar yang berbeda. Mereka perlu diberi kesempatan untuk mencoba, berdiskusi, mengajukan pertanyaan, dan memahami alasan di balik sebuah aturan.
Bukan berarti semua harus dibuat mudah atau menyenangkan.
Ada kalanya mereka perlu menghadapi kesulitan, menanggung konsekuensi, dan belajar dari kesalahan.
Namun, kesulitan itu harus menjadi bagian dari proses pembelajaran, bukan sekadar alat untuk membuktikan bahwa kita lebih kuat daripada mereka.
Keempat, bersedia belajar dari generasi yang kita didik.
Kita sering mengatakan bahwa anak-anak perlu belajar dari pengalaman orang dewasa.
Itu benar.
Tetapi, bukankah orang dewasa juga dapat belajar dari pengalaman anak-anak?
Mereka mungkin memiliki cara pandang yang berbeda. Mereka mungkin mempertanyakan sesuatu yang selama ini kita anggap biasa. Bahkan, pertanyaan mereka terkadang membantu kita menemukan kembali makna dari nilai-nilai yang selama ini kita ajarkan.
Kesediaan untuk belajar bukanlah tanda bahwa kita kehilangan kewibawaan.
Sebaliknya, itu menunjukkan bahwa kita memahami bahwa proses pendidikan tidak pernah berhenti hanya karena seseorang telah menjadi dewasa.
Pada akhirnya, tugas kita bukanlah membuat anak-anak hari ini menjadi seperti diri kita di masa lalu.
Tugas kita adalah membantu mereka menjadi manusia yang mampu menjalani zamannya dengan nilai-nilai yang baik.
Kita boleh mengenang masa lalu. Kita boleh mengambil pelajaran dari pengalaman kita dahulu.
Namun, jangan sampai kenangan itu membuat kita kehilangan kemampuan untuk memahami anak-anak yang sedang tumbuh di hadapan kita.
Sebab, mereka tidak sedang hidup di masa lalu kita.
Mereka sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depan mereka sendiri.
Dan mungkin, sebelum kita meminta mereka menyesuaikan diri dengan cara kita mendidik, ada baiknya kita terlebih dahulu bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah kita menyesuaikan cara mendidik dengan kebutuhan generasi yang sedang kita bina?
Atau, jangan-jangan, kita masih berharap anak-anak hari ini dapat tumbuh dengan cara yang sama seperti kita dahulu, tanpa terlebih dahulu memahami dunia yang mereka hadapi hari ini?.ej.
#edukasi
#LearningByExperience
#reflektif
#bertumbuh
#pendidikan
Komentar
Posting Komentar