Reksabumi: Tanda Yang Sering Hanya Dianggap Pemandangan
Gunung Reksabumi berdiri kokoh, menjadi pusat pandangan
mata di antara hijau hutan belantara. Ngarainya menjadi ukiran alam yang
menambah pesona tampilannya. Keberadaannya menjadi sumber daya alam bagi
penduduk desa di sekeliling kakinya.
Reksabumi tidak pernah mengundang siapa pun. Ia hanya berdiri, menampilkan dirinya adanya. Seperti kebenaran yang tidak membutuhkan pengakuan.
Namun entah karena angin apa. Pagi itu, tiga pemuda datang seolah terpanggil oleh sesuatu yang tidak mereka dengar melalui telinga, tetapi mengalir ke dalam pusat perasaan mereka. Seperti air yang turun dari dari langit, mengisi ngarai-ngarai di lereng Reksabumi, yang meneruskannya ke sungai-sungai, dan pada akhirnya berkumpul di samudera kehidupan.
Bara berjalan di depan, membawa keyakinan bahwa dunia bisa dipahami.
Nala berjalan di tengah, membawa pertanyaan yang tidak pernah selesai.
Yasa berjalan di belakang, membawa iman yang tidak selalu tenang.
Di kaki gunung, mereka berhenti sejenak. Bukan untuk
mengatur napas, tetapi untuk mengatur diri.
“Gunung ini seperti buku,” kata Nala. “Tidak,” jawab Bara. “Buku punya penulis. gunung hanya batu.” Yasa tersenyum samar. “Mungkin justru karena itu, gunung lebih jujur.” Dalam hati Yasa terbersit ingatan:
"Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu dibangkitkan." (Al-Mulk: 15)
Mereka melangkah. Dan halaman pertama pun terbuka. (bersambung).
~1~
Bara dan Runtuhnya Kepastian Pikiran
Dalam benak Bara, kehidupan adalah belantara. Dalam pikirannya, selama ada peta, manusia tidak akan tersesat. Perjalanan menuju Pos 1 mulai mengusik pikirannya. Setelah berjalan lebih dari 90 menit, mereka menemui jalur setapak yang tertutup tanaman, dan sebagian bahkan tak lagi terlihat. Semak berduri, tanaman sulur melintang, kabut turun tanpa permisi, dan kompas yang seharusnya menjadi penunjuk arah, mulai diragukan bidikannya. “Alam tidak logis,” gumamnya.
“Bukan,” kata Nala, “kita yang terlalu ingin semuanya logis.”
Bara tidak menjawab. Ia menatap pepohonan yang tumbuh
tanpa rumus yang bisa ia sebutkan. Untuk menemukan kembali jalur setapak yang
sempat menghilang. “Kalian tunggu di sini 15 menit, jika Aku tak kembali, ikuti
jejakku dengan melihat sobekan kulit pohon dari pisauku”, ucap Bara penuh
ketegasan kepada kedua rekannya.
Lima belas menit berlalu, “Sudah sampai batas waktu yang ditentukan Bara, ayo kita susul dia”, sergah Nala kepada Yasa yang dari tadi duduk bersandar pada batang pohon tumbang. “Ayo”, jawab Yasa singkat.
Mereka mulai berjalan menyusuri jejak yang ditinggalkan Bara. Nala berjalan di depan, sesekali ia berhenti untuk memastikan tanda jejak sobekan kulit pohon yang dibuat Bara. Sekitar 20 menit mereka berjalan, Yasa melihat asap dari kejauhan. “Nala, mungkinkah asap itu Bara yang membuatnya?” tanya Yasa. “Ayo kita pastikan”, jawab Nala singkat.
Di kejauhan pandangan Nala, Bara sudah membuat api kecil di bawah pohon besar yang terdapat tempelan Pos 1. “Kalian patuh dengan perintahku rupanya”, ucap Bara menyambut kedua temannya. “Bukan sekadar patuh, namun kepercayaan yang menggerakkan kami”, sahut Yasa dengan senyuman dalam kabut yang menyamarkan pandangan. “Penting untuk saling percaya dalam perjalanan pendakian seperti ini”, sergah Nala sambil menyandarkan ranselnya di pangkal pohon.
“Aku sudah menemukan kelanjutan jalan setapak yang hilang tadi, sepertinya jalur Pos 1 ini sudah lama tak dilewati orang”, jelas Bara kepada kedua rekannya. “Kita istirahat sebentar di sini, sambil berharap kabut segera berganti terang kembali”. Nala dan Yasa hanya memberi kode jempol, dan mereka bertiga berkumpul di dekat api yang dibuat Bara sambil menikmati perbekalan mereka.
Bara merasa ada sesuatu yang retak dalam dirinya. Bukan imannya, karena ia tidak pernah merasa memilikinya sepenuhnya. Yang retak adalah keyakinan bahwa manusia adalah pusat segalanya.
Di antara pepohonan dan semak liar, setelah mengalami “hilang jalan”, ia tiba-tiba menyadari bahwa dunia bukan diciptakan untuk dipahami manusia, melainkan untuk membuat manusia memahami dirinya, bahwa ia merupkan bagian dari kehidupan dunia itu sendiri.
Yasa bergumam lirih, hampir seperti doa yang tak sempat keluar:
“....... tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan (kekuasaan-Nya), dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya.” (Al-Furqan: 2)
Matahari kembali menampakkan diri, dengan sendirinya kabut perlahan tersibak.
Mereka mulai melanjutkan melangkah. Dan halaman kedua
mulai dibuka.
~2~
Nala dan Luka Pertanyaan
Nala tidak takut pada lelah. Ia takut pada hidup yang tidak pernah dipertanyakan. Di sebuah lereng curam, ia berhenti. Menatap jurang yang dalam, seolah menatap dirinya sendiri. “Kalau Tuhan Maha Ada,” katanya pelan, “mengapa manusia sering merasa sendirian?” Bara menoleh, ingin menjawab, tetapi tidak menemukan kata.
Yasa memandang Nala lama. Ia tahu pertanyaan itu bukan perlawanan, melainkan jeritan jiwa yang ingin diyakinkan.
Yasa berkata, bukan untuk menjawab pertanyaan Nala, Aku pernah membaca:
“Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Qaf: 16)
Nala tersenyum kecil. “Kalau begitu, mengapa aku sering merasa jauh?” Yasa tidak menjawab. Karena ia pun pernah merasakan jarak yang sama. Nala melanjutkan langkahnya. Ia mulai mengerti bahwa pertanyaan tidak untuk dilawan, tetapi untuk mengantar manusia menuju kedalaman hatinya sendiri.
Mereka bertemu penanda Pos 2, namun tidak berhenti. “Di sini adalah Pos 2, tapi sebaiknya kita melanjutkan perjalanan. Agar sore nanti kita bisa beristirahat lebih lama di Pos 3“, seru Bara membubarkan percakapan kedua kawannya.
Bayangan puncak Reksabumi tampak berkabut tipis.
Mereka terus melangkah. Dan halaman ketiga mulai
dibuka.
~3~
Yasa dan Sunyi Iman
Yasa sering dianggap paling “agamis”. Padahal, tidak ada yang lebih sering merasa goyah selain dirinya. Ia hafal banyak ayat-ayat kitab suci qur’an, tetapi tidak selalu memahami maknanya dalam hidup. Namun, entah mengapa dalam pendakian ini, tiap kali mereka berhenti untuk beristirahat, di kepalanya selalu muncul ingatan ayat yang membuat dia bergumam sendiri, terkadang sempat terucap meski lirih.
Di tengah perjalanan menuju senja, ia berkata tiba-tiba, “Kalian pernah merasa… bahwa Tuhan itu ada, tetapi kita tidak selalu merasa bersama-Nya?”
Bara menatapnya heran. Nala tersenyum, seperti
menemukan cermin. Angin melewati mereka, membawa aroma tanah basah. Yasa
melanjutkan, suaranya rendah “Aku takut kalau imanku hanya kebiasaan. Takut
kalau doaku hanya suara.”
Lalu, seperti menenangkan dirinya sendiri, ia bergumam:
“Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (Ar-Ra’d: 28)
Namun Yasa tahu, bahwa ketenangan bukanlah hadiah, melainkan ia adalah perjalanan panjang kesadaran.
Sesuai yang diharapkan Bara, menjelang matahari tenggelam mereka sampai di gubuk tua Pos 3. Tanpa aba-aba, ketiganya mengatur diri sendiri. Setelah mengamankan ransel, Bara mulai mencari kayu bakar, Nala mendirikan tenda, dan Yasa mengeluarkan kompor lapangan dan perbekalan dari ranselnya. Ketiganya telah bersepakat sejak berangkat, bahwa Bara bertugas sebagai pemandu perjalanan, Nala sebagai pembawa tenda, dan Yasa bertanggungjawab atas logistik makanan.
Nyala api unggun yang dibuat Bara menyambut beralihnya cahaya senja menjadi gelap malam. Tenda yang dibangun Nala telah siap menaungi mereka. Dan aroma sarden bercampur mi instan menyeruak dari panci nesting dari kompor Yasa. Sambil menyeduh kopi, Yasa berbisik lirih:
“Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam
dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar menurut waktu yang
ditentukan. ...... (Al-Fathir: 13).
~3~
Malam: Saat Manusia Menjadi Debu yang Berpikir
Malam turun seperti pertanyaan yang tidak bisa dihindari. Di pos akhir pendakian sebelum puncak, mereka duduk membuat api kecil sebagai penghangat sekaligus tungku. Nyala api membuat wajah mereka terlihat asing satu sama lain, seolah mereka bukan lagi tiga pemuda, melainkan tiga kesadaran yang saling bercermin.
Bara berkata,“Di kota, kita merasa penting. Di sini,
kita seperti tidak ada.” Nala menjawab, “Mungkin memang begitu. Manusia hanya merasa
ada karena lupa bahwa ia kecil.” Yasa menatap langit yang penuh bintang. “Kalau
manusia kecil,” katanya pelan, “mengapa ia diberi hati yang bisa memikirkan
Yang Tak Terbatas?”
Tidak ada yang menjawab.
Yasa membaca ayat dengan suara yang hampir hilang:
“...... Wahai Rabb kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia......” (Ali Imran: 191)
Api unggun menyala, lalu meredup. Seperti ego manusia. Pada malam itu, mereka tidak berbicara banyak. Karena mereka mulai mengerti bahwa ada kebenaran yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
~5~
Puncak: Saat Yang Banyak Menjadi Satu
Subuh datang perlahan, seperti rahasia yang akhirnya berani menampakkan diri. Di puncak Reksabumi, mereka berdiri tanpa hiruk pikuk teriakan. Angin menggeser kabut bergerak pelan, membuka pemandangan yang luas, namun entah mengapa hati mereka justru terasa semakin kecil.
Bara berbicara pertama kali, dengan suara yang tidak lagi penuh kepastian “Aku pikir, manusia bisa memahami segalanya. Ternyata, yang paling sulit dipahami adalah dirinya sendiri.”
Nala berkata pelan “Aku pikir, pertanyaan adalah tujuan. Ternyata, pertanyaan hanya jalan menuju satu kesunyian.”
Yasa menundukkan kepala. Di hadapan langit yang
perlahan terang, ia berkata:
“Aku pikir, iman adalah keyakinan yang tidak goyah. Ternyata, iman adalah keberanian untuk tetap percaya, meski tidak sepenuhnya mengerti.”
Kemudian, Yasa menggumamkan ayat yang dipercayai sebagai wahyu pertama, yang memberi perintah sekaligus meminta pengakuan:
“Bacalah: atas nama Rabb-mu yang Maha Mencipta.” (Al-Alaq: 1)
Pada saat itu, gunung tidak lagi terlihat sebagai gunung. Langit tidak lagi terlihat sebagai langit. Dan mereka tidak lagi merasa sebagai pusat dunia. Mereka memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan di sekolahan, buku, atau perjalanan:
Bahwa segala yang banyak hanyalah bayangan dari Yang Satu. Bahwa segala yang bergerak hanyalah tanda dari Kehendak-Nya. Bahwa manusia, dengan segala pikirannya, hanya debu yang diberi muatan kesadaran.
Angin puncak menyentuh wajah mereka, seperti tangan yang tidak terlihat. Bara merasakan kerendahan hati yang belum pernah ia kenal. Nala merasakan keheningan yang tidak lagi menakutkan. Yasa merasakan iman yang tidak lagi ingin dipamerkan, tetapi ingin disimpan.
Matahari perlahan naik. Cahayanya menyilaukan mata, menerangi jiwa yang sebelumnya gelap oleh “ego”. Mereka turun dari gunung, bukan sebagai penakluk, melainkan sebagai saksi. Tanpa merasa lebih hebat dari sebelumnya. Justru sebaliknya, mereka merasa lebih menjadi “manusia”. Di dalam diri mereka, perlahan tumbuh sebuah kesadaran yang tidak bisa diucapkan melalui lidah – bahwa hidup bukan tentang mencapai puncak, tetapi tentang mengenali siapa yang membuat puncak itu ada.
Gunung Reksabumi tetap berdiri.
Namun sejak hari itu, tiga pemuda itu tahu:
Gunung tidak pernah mereka daki.
Yang mereka daki adalah diri sendiri.

Komentar
Posting Komentar