Petualangan Regu Srigala (1)
(1)
API UNGGUN DAN PESAN RAHASIA
Bagas menatap api itu lama. Sebagai pemimpin regu, ia selalu merasa punya tanggung jawab lebih—bukan hanya memastikan semua lengkap, tapi juga menjaga semangat anggotanya tetap menyala.
“Sunyi sekali ya malam ini,” gumam Raka, memecah keheningan. “Justru di sini enaknya,” jawab Arya sambil menarik jaketnya. “Alam lagi bercerita”, sahut Damar sok puitis, sambil meletakkan ranting kering di samping api unggun yang terus membakar.
Galih terkekeh. “Kalau alam sedang bercerita, biasanya besok kita disuruh jalan jauh.”
Belum sempat tawa mereka selesai, langkah kaki terdengar mendekat. Dari balik bayangan tenda, sosok Pembina muncul. “Kak Pandu”, Bisik Galih kepada yang lain. Wajahnya tersenyum, tapi sorot matanya seperti menyimpan sesuatu. “Regu Srigala,” panggilnya pelan.
Serentak mereka berdiri.
“Siap, Kak!” jawab mereka hampir bersamaan antara
kaget dan hormat.
Kak Pandu duduk di seberang api unggun. Tangannya mengeluarkan sebuah amplop cokelat, tebal, dan terlihat sudah lama disimpan.
“Penjelajahan bukan sekadar berjalan,” katanya pelan. “Ia adalah perjalanan mengenal alam… dan diri sendiri.”
Api unggun bergeliat seakan ikut mengangguk, mengiyakan ucapan Kak Pandu.
“Apa di dalam amplop itu, Kak?” Damar tak bisa menahan rasa penasarannya.
Pembina tersenyum tipis. “Sebuah pesan. Dan sebuah tantangan.”
Amplop itu diletakkan di tanah, tepat di tengah lingkaran, di sisi angin menerpa api unggun yang membuatnya terus menyala.
Bagas maju, mengambil amplop coklat dan membukanya dengan hati-hati. Di dalamnya terdapat peta sederhana, beberapa simbol aneh, dan secarik kertas bertuliskan tangan dengan huruf sandi:
Ifikufutifi jefejafak, jafagafa refegufumufu, hoformafatifi afalafam. Yafang kefembafalifi bufukafan hafanyafa meferefekafa yafang safampafaifi, tafapifi meferefekafa yafang befelafajafar.
Ikuti
jejak, jaga regumu, hormati alam. Yang kembali bukan hanya mereka yang sampai, tapi
mereka yang belajar.
Hening.
“Ini… penjelajahan sungguhan?” bisik Raka.
“Benar,” jawab Kak Pandu. “Besok pagi kalian
berangkat. Tanpa ponsel. Tanpa jalan pintas. Hanya regu, peta, dan sikap
Pramuka.”
Galih mengepalkan tangan. “Mantap!”
Arya menatap peta lebih dekat. “Tapi ini bukan jalur
biasa…”
“Justru itu,” jelas Kak Pandu. “Penjelajahan adalah ujian kesiapan. Bukan siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling bertanggung jawab.”
Bagas menelan ludah. Ada rasa berdebar, tapi juga bangga. Ia menoleh ke regunya.
“Kita jalani bareng,” katanya mantap. “Satu regu, satu petualangan.”
Kak Pandu berdiri. “Ingat. Selama penjelajahan, Aku bukan pemimpin kalian. Alam yang akan menguji. Kalian yang harus menjaga diri dan regu.”
Geliat api unggun mulai mengecil.
Malam semakin dalam.
Saat Pembina pergi, kelima Penggalang itu masih duduk melingkar. Tidak ada yang bicara. Mereka tahu, mulai besok, perjalanan ini akan menunjukkan siapa mereka.
Bagas melipat peta perlahan. “Besok,” katanya pelan, “kita tidak hanya berjalan. Kita belajar jadi Penggalang sesungguhnya.”
Api unggun hampir padam. Tapi di hati mereka, api petualangan baru saja dinyalakan. (bersambung).

Komentar
Posting Komentar