Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

Lihatlah Pemimpin Dari Warisan Yang Ditinggalkannya

Gambar
  Ada cara sederhana menilai seorang pemimpin yang sering luput dari sorotan. Bukan dari tepuk tangan saat ia berdiri di panggung, bukan dari ramainya pengikut yang mengelilinginya, bahkan bukan dari panjangnya daftar jabatan yang pernah ia sandang. Pemimpin sejati justru dapat dibaca dari jejak yang tertinggal setelah langkahnya berhenti. Dari warisan yang ia tinggalkan. Pemimpin ibarat penanam pohon di tanah yang belum tentu ia saksikan panennya. Ia menanam gagasan, nilai, dan semangat ke dalam tanah kehidupan orang-orang yang dipimpinnya. Ketika masa kepemimpinannya selesai, pohon-pohon itu akan tetap tumbuh. Ada yang menjadi tempat berteduh, ada yang berbuah pengetahuan, ada pula yang menjadi penyangga bagi generasi berikutnya. Dari sanalah kualitas kepemimpinan dapat diukur: apakah yang tumbuh adalah keberanian, kemandirian, dan ketulusan, atau justru ketergantungan dan kehilangan arah. Warisan seorang pemimpin bukan sekadar bangunan fisik, program kerja, atau dokumen te...

Verba Volent Scripta Manent

Gambar
  Peribahasa Latin kuno menyatakan verba volent scripta manent. Arti dari kalimat tersebut intinya: “Apa yang terucap, akan segera lenyap. Apa yang tertulis akan menjadi abadi.” Kita tidak hidup sezaman dengan Chairil Anwar, namun kita "mengenal" namanya dari puisi-puisinya yang dituliskan. Kita tidak hidup sezaman dengan Kahlil Gibran, namun kita mengenal namanya dari sajak-sajak yang dituliskan. Kita tidak hidup sezaman dengan Sang Nabi, namun kita mengenal namanya dan mematuhinya dari kata-kata beliau yang dituliskan. Sejarah dikenang ribuan tahun karena dituliskan. Kata-kata itu pikiran yang disuarakan. Lukisan/relief itu pikiran yang digambarkan. Teks/Naskah itu pikiran yang dituliskan. Sedangkan angan-angan adalah pikiran yang tidak dilakukan. Pengetahuan dan pengalaman itu ibarat kuda liar.  Pengikatnya ialah dengan menuliskannya.